Rabu, 03 Januari 2018

Rumor Seputar Penggunaan INSULIN

Pendahuluan

Sejarah pemakaian insulin dimulai sekitar awal tahun 1920-an, ketika Tuan Frederick Banting and Tuan Charles Best berhasil  mengisolasi insulin dari pankreas seekor anjing lalu menyuntikkannya ke seorang anak diabetes tipe 1. Keajaiban ditunjukkan pada saat itu, dimana anak yang awalnya sangat kurus kemudian bisa menjadi sehat dan gemuk setelah disuntik dengan insulin. Sejak saat itu dunia ilmu pengetahuan sangat tertarik dan banyak melakukan penelitian tentang insulin, dan akhirnya pada tahun 1950 an, urutan asam amino insulin dapat diidentifikasi lalu insulin juga sudah bisa dimurnikan. Akhirnya kita lihat saat ini insulin dapat diproduksi secara masal melalui teknologi rekombinan dengan menggunakan jasa bakteri. Penemuan insulin merupakan tonggak sejarah terpenting di dunia kedokteran terkait kemampuan mengisolasi protein tertentu sehingga penemunya mendapat hadiah Nobel kedokteran.
 
Peran Insulin pada Pengobatan Diabetes
 
Diabetes adalah penyakit kronik yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan sehingga sering mengakibatkan beragam penyakit aterosklerosis ( serangan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah perifer, gagal ginjal kronik, kebutaan, amputasi dan lain-lain ). Gula darah yang tinggi adalah akibat pabrik insulin, yaitu pankreas, tidak mampu memproduksi insulin ( disebut insulin endogen ) sesuai dengan kebutuhan tubuh, sekaligus sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif dengan insulin, akibatnya dibutuhkan insulin yang lebih banyak untuk memasukkan gula darah ke dalam sel. Seperti dipahami bahwa insulin berfungsi seperti anak kunci yang membuka “pintu” di dinding sel, selanjutnya “pintu” tersebut menjadi terbuka dan gula darah dapat masuk ke dalam sel sehingga bisa diolah untuk menghasilkan energi. Jika gagal dimasukkan ke dalam sel maka gula darah akan tetap di pembuluh darah dan  bila diukur kadarnya tinggi, itulah yang disebut dengan diabetes. 
 
Beragam usaha untuk menurunkan gula darah telah diupayakan, baik dalam bentuk obat makan maupun obat injeksi. Obat makan juga tersedia dalam beragam cara kerja, ada yang meningkatkan pengeluaran insulin dari pabriknya dan ada juga yang bekerja dengan meningkatkan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin. Di sisi lain ada juga usaha meningkatkan kadar insulin itu sendiri dengan menambah insulin dari luar tubuh ( insulin eksogen ), hanya saja sampai saat ini insulin eksogen baru tersedia dalam bentuk suntikan, walaupun manusia sangat bercita-cita membuat insulin dalam bentuk selain suntikan sehingga mudah diterima oleh pasien. Dalam keadaan tertentu, insulin bahkan merupakan satu-satunya pilihan untuk menurunkan gula darah, seperti saat dokter ingin menurunkannya secara cepat, pada diabetes tipe 1, gagal dengan obat makan, pada keadaan kritis, diabetes dengan kehamilan, dan lain-lain.
Pada diabetes tipe 2 ( lebih dari 95% diabetes  merupakan tipe 2 ), memang awalnya dipakai obat-obat makan, disamping perencanaan makan dan olah raga, hanya saja karena saat didiagnosis kapasitas pabrik insulin ( pankreas ) tersisa hanya 50%, maka seringkali diabetes tipe 2 pada akhirnya juga butuh insulin. Tidak mudah untuk menawarkan insulin pada pengidap diabetes, karena sebagian besar dari mereka kurang mendapatkan informasi yang baik dan benar tentang insulin. Biasanya pengidap diabetes mendapat rumors dari orang non medis yang seringkali banyak salahnya daripada benarnya, sehingga jika tiba saatnya mereka harus memakai insulin timbul penolakan akibat persepsi yang salah tentang insulin. Dari penelitian-penelitian  yang ada sekitar 54,5 % ( DAWN study ) pasien diabetes tanpa  insulin khawatir jika memakai insulin, dan 27% menolak saat ditawarkan insulin ( UKPDS ).
 
Rumors tentang Insulin
 
Di masyarakat awam banyak sekali rumors yang beredar tentang insulin, sebagian diantaranya benar tetapi sebagian besar adalah salah bahkan menyesatkan. Untuk itu perlu ada klarifikasi dan diseminasi informasi yang benar tentang insulin sehingga diharapkan masyarakat lebih mudah menerima insulin jika memang diperlukan untuk pengobatan diabetesnya. Beberapa rumors diantaranya adalah:
 
A. Insulin menyebabkan kecanduan
Insulin disalahpersepsikan seperti narkoba yang bisa menyebabkan kecanduan, tentu pemahaman ini salah dan perlu diperbaiki. Insulin tidak menyebabkan ketagihan apalagi kecanduan. Kadang-kadang juga ada pendapat bahwa: “sekali insulin tetap insulin”. Padahal seringkali pasien-pasien yang pulang rawat justru tidak butuh insulin lagi walaupun dalam perawatan di rumah sakit mereka memakai insulin. Memang untuk pasien-pasien yang sudah lama mengidap diabetes tipe 2 seringkali gagal dengan obat makan dan butuh insulin. Untuk kasus-kasus seperti ini dokter juga tidak bisa menjamin apakah diabetesnya bisa terkontrol hanya dengan obat makan, sehingga dibutuhkan insulin terus-menerus. Semuanya tergantung dengan kapasitas cadangan pabrik insulin yaitu pánkreas dan derajat resistensi sel-sel tubuh terhadap insulin.
 
B. Insulin hanya untuk diabetes tipe 1
Untuk diabetes tipe 1 ( sering timbul di usia anak-anak ) jelas bahwa mereka dari awal harus memakai insulin karena terjadi kekurangan insulin absolut sehingga harus memakai insulin dari luar tubuh. Untuk diabetes tipe 2 biasanya awalnya bisa terkontrol dengan obat makan, hanya saja saat didiagnosis diabetes sebenarnya penyakitnya sudah berproses lama ( 10-12 tahun sebelumnya ), sehingga kapasitas cadangan produksi insulinnya sudah jelek ( tinggal 50% ). Dengan berjalannya waktu kapasitas cadangan tersebut semakin lama semakin menurun, apalagi jika gula darahnya sering tidak terkontrol maka penurunan tersebut akan semakin cepat dibandingkan dengan orang yang selalu terkontrol ( efek racun dari gula darah tinggi dan asam lemak ). Jadi pada diabetes tipe 2 juga sering membutuhkan insulin manakala kapasitas produksi pankreasnya sudah jelek. 
 
C. Insulin hanya dipakai jika penyakitnya sudah parah dan sebagai jalan terakhir
Karena diabetes adalah penyakit kronik yang berkepanjangan dan komplikasinya juga merupakan penyakit berat maka konsep pengelolaannya adalah sedapat mungkin dengan menggunakan beragam cara mengontrol gula darah ke keadaan normal. Saat ini beberapa pedoman pengobatan menganjurkan kombinasi obat makan dengan insulin sedini mungkin tanpa perlu harus menunggu gagal dengan 2 atau 3 obat terlebih dahulu. Dengan demikian insulin bukan jalan terakhir jika memang pasiennya bersedia menggunakan insulin.
 
D. Suntik insulin sakit
Saat ini alat-alat delivery insulin semakin canggih dan nyaman untuk pasien. Jarum insulin dengan ukuran supra kecil dengan panjang kurang dari ½ sentimeter membuat rasa sakit hampir tidak ada. Apalagi jarum insulin saat ini juga sudah dilapisi dengan silikon sehingga rasa sakitnya semakin berkurang. Biasanya setelah merasakan sekali dua kali pasien akan terbiasa dan tidak lagi merasakan sakit. Bentuknya tidak lagi menakutkan seperti jarum tetapi sudah dikemas seperti pen yang lucu dan mudah kemana-mana.
 
E. Insulin mahal
Hampir semua sediaan insulin saat ini masuk daftar obat PT Askes, sehingga para pengguna asuransi kesehatan PT Askes bisa memanfaatkannya. Karena semua insulin dapat diproduksi masal dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika maka biaya semakin murah.  Begitu juga dengan Askeskin ( asuransi kesehatan untuk warga miskin ) juga menyediakan tanggungan untuk beberapa jenis insulin.
 
F. Insulin dapat mengakibatkan kebutaan
Pendapat ini benar-benar menyesatkan, bahkan harapannya adalah jika diabetes dapat terkontrol dengan baik sedini mungkin, maka kebutaan tersebut dapat dihindari. Seperti dipahami saat ini diabetes adalah penyebab kebutaan tersering di dunia pada orang dewasa.
 
G. Insulin dapat mengakibatkan cuci darah
Saat ini diabetes adalah penyebab tersering cuci darah di negara-negara maju. Dengan mengontrol diabetes dengan cara apapun, termasuk insulin, maka diharapkan pengidap tidak sampai harus cuci darah. Tentunya tidak cukup gula darah yang dikontrol tetapi juga faktor risiko lain seperti tekanan darah, kolesterol, dan lan-lain. Seringkali pasien datang sudah dengan gangguan fungsi ginjal yang berat lalu ditawarkan insulin, sehingga disimpulkan bahwa insulinlah yang menyebabkab pasien menjadi cuci darah.
 
H. Repot, makan waktu banyak dan hidup menjadi terkungkung
Memang jika sudah memakai insulin ada aktifitas baru yang secara rutin harus dikerjakan. Hanya saja para dokter tidak langsung menawarkan 2 atau 3 kali suntikan sehari, tetapi sekali sutikan terlebih dahulu dan dikombinasikan dengan obat makan yang sudah dpakai sebelumnya. Saat ini hampir sebagian besar insulin menggunakan pen yang canggih dan tidak menakutkan. Dengan menggunakan pen maka tidak serepot jika memakai jarum suntik biasa, waktu yang digunakan juga lebih sedikit. Pen bisa dibawa kemana-mana seperti pulpen dan dimasukkan ke saku.
 
I. Insulin terbuat dari babi
Saat ini di manapun tidak ada lagi insulin yang terbuat dari binatang, semuanya merupakan insulin dengan urutan asam amino insulin manusia atau derivatnya. Insulin manusia sudah dapat dimurnikan dan diperbanyak dengan teknologi rekombinan. Insulin juga bukan dibuat dengan diekstrak dari pankreas orang yang sudah meninggal. Jadi tidak perlu lagi khawatir akan adanya insulin babi atau sapi.
 
J. Insulin dapat menyebabkan gula darah drop ( hipoglikemia )
Pendapat ini benar adanya. Tidak hanya insulin tetapi sebagian besar obat makan juga menyebabkan gula darah terlalu drop. Namun dengan edukasi yang baik, pengawasan dan kerja sama dengan dokter yang ketat, dan monitoring gula darah yang sesuai maka risiko tersebut bisa diminimalisir. Pengidap diabetes dan keluarga harus tahu kapan jadwal dan dosis menyuntik insulin, bagaimana pengaturan makannya, bagaimana tanda-tanda dini gula darah drop, bagaimana mengatasinya, dan sebagainya. Akhirnya pengidap diabetes bisa menjadi “dokter” utama bagi dirinya sendiri. Dengan memulai insulin jangka panjang yang sekali sehari maka risiko gula darah drop juga semakin berkurang. Edukasi adalah hak para pengidap diabetes.
 
K. Insulin menaikkan berat badan ( menjadi lebih gemuk )
Insulin adalah termasuk hormon anabolik, sehingga benar jika dikatakan insulin dapat menaikkan berat badan. Dengan demikian tidak heran jika pada keadaan terdapat penurunan berat badan yang drastis pada pengidap diabetes disarankan memakai insulin. Pada orang yang berat badannya ideal atau gemuk maka tentunya efek ini dapat menimbulkan masalah baru, namun dengan sediaan insulin analog yang banyak beredar saat ini dikatakan bahwa efek kenaikan berat badan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan insulin biasa. Cara lain untuk mengimbangi risiko kenaikan berat badan adalah dengan mengkombinasi dengan obat makanan golongan biguanid jika tidak terdapat kontra indikasi. Jangan lupa juga untuk tetap berolah raga sesuai aturan dan makan sesuai anjuran agar berat badan tidak naik berlebihan jika memakai insulin.
 
Saat ini banyak sekali pengidap diabetes yang datang ke dokter dalam keadaan sudah dengan bermacam-macam komplikasi kronik sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang sangat tinggi. Untuk itu perlu dikampanyekan kembali kesadaran untuk mengontrol diabetes secara teratur dan dengan pendekatan target. Artinya pengidap diabetes seharusnya tidak dibiarkan berlama-lama dengan obat tertentu, jika memang diabetesnya tidak terkontrol. Prinsipnya adalah cepat memulai terapi dan cepat mengkombinasi obat.
 

0 comments:

Posting Komentar